18 September 2014

PT DI Kembali Produksi CN-235 Pesanan Kemenhan

18 September 2014

TNI AU membutuhkan tiga pesawat CN-235MPA untuk membentuk skuadron baru pesawat intai taktis. Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL  (photos : IAe, Alert5)

 SURYA Online, SURABAYA - Penyerahan pesawat udara CN 235 ke Puspenerbal  yang berlangsung hari ini di Apron Base Opps Lanudal Juanda, Selasa (17/9/2014), menjadi pelunasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dari pesanan Kementerian Pertahanan RI. 


PT DI tuntas menyelesaikan pembuatan dan menyerahkan tiga CN 235 220 Patroli Maritim (Patmar) yang digunakan penunjang kinerja TNI AL


Direktur PT DI Budi Santoso mengatakan, pemesanan pesawat udara oleh Kementerian Pertahanan ini jadi titik awal kontrak kedirgantaraan  dalam jumlah besar. Setelah pemenuhan pesanan tahap ini, PT DI kini telah memiliki kotrak untuk menyelesaikan tiga pesawat udara CN 235 lagi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).


“Ada pesanan lagi, satu untuk TNI AU dan dua untuk TNI AL, ini dari kontrak baru, cuman yang satu belum efektif berjalan,” ungkap Budi usai acara penyerahan CN 235 ke Puspenerbal.


Secara teknis Budi menyebut pesawat CN 235 secara keseluruhan telah memenuhi kebutuhan dan teknologi yang digunakan juga sudah terbaik. Kalaupun ada pengembangan lagi bisa dilakukan di mission systemnya saja.


“Pesawatnya sudah cukup cangih, wing juga desain baru, cuman untuk pesanan berikutnya yang kini dikerjakan kemungkinan bisa memiliki kemampuan terbang 11-12 jam, sementara mission systemnya disesuaikan dengan permintaan penggunannya,” kata Budi.

(Surya)

TNI AU Ujicoba Chaff and Flare pada Hawk 100/200 dan F-16

18 September 2014

Ujicoba chaff and flare pada pesawat Hawk 200 (photo : TNI AU)

Uji Coba Chaff and Flare di Lanud Roesmin Nurjadin

Pelaksanaan uji coba penggunaan Chaff and Flare pada dua unit pesawat tempur Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Rsn dan dua unit pesawat tempur F-16 Skadron Udara 3, Lanud Iwy berjalan dengan sukses dan aman. Hal ini bisa terlihat pada saat empat pesawat tempur kebanggaan TNI Angkatan Udara tersebut sukses merilis Chaff and Flare yang terpasang dibagian belakang pesawat (Exhaust), Rabu (17/9). Ujicoba ini turut dipantau langsung oleh Danlanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb M. Khairil Lubis dan Paban II Sopsau, Kolonel Pnb Anang Nurhadi serta Kasubdis Alpernika Diskomlekau, Kolonel Lek Arief Joko Setiawan.

Pada ujicoba pertama terlihat pesawat Hawk 200 yang dipiloti oleh Danskadron Udara 12, Letkol Pnb Reka Budiarsa dan pesawat Hawk 100 yang dipiloti oleh Mayor Pnb Akbar dan Mayor Penerbang Amry Taufanny melintas diatas Apron Skadron Udara 12 pada ketinggian lebih kurang 700 Feet mengeluarkan panas berbentuk butiran api dan sejumlah serbuk putih dari bagian belakang pesawat (Exhaust). Hal yang sama juga terlihat saat dua pesawat F-16 yang dipiloti oleh Letkol Pnb Firman Dwi Cahyono dan Lettu Pnb Eri Nasrul Mahlidar saat merilis sejumlah Chaff and Flare.

Selain para penerbang Skadron Udara 12 dan Skadron Udara 3, ujicoba Chaff and Flare ini turut diikuti oleh dua penerbang dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio yakni, Danskadron Udara 1, Letkol Pnb Sidik Setiyono dan Mayor Pnb M. Amry Taufanny.

(TNI AU)

Fifth Submarine HQ-186 Completed Docking Compartment

18 September 2014


HQ-186 Khanh Hoa is the 5th Kilo Submarines of the Vietnamese navy (photo : topwar)

According to information from Admiralty Shipyards (St. Petersburg, Russia), the process of assembling the cavity of the 5th Kilo submarines named Khanh Hoa HQ-86 has been completed.

Accordingly, on 24/7 the past, representing Vietnam Ministry of Defense has signed a financial payment for the closing stages 3 Kilo submarines 5th of Vietnam at Admiralty Shipyards.

According to sources from the factory, this signing also means the complete assembly of the 5th compartment (HQ-186 named Khanh Hoa). The completion of this assembly takes place at an earlier date.

The submarine 6th and final (HQ-187 Ba Ria - Vung Tau) was transferred to the 12 workshops, planning is expected to assemble on May 12/2014. This one was a groundbreaking ceremony last month 5/2014.

Mr. Alexander Buzakov, CEO of Admiralty said that the closure of export Varshavyanka 636.1 submarine (Kilo, according to NATO classification) for Vietnam is on schedule with the schedule.

Mr. Alexander Buzakov answer Itar-Tass news agency said 21/8 days, Kilo submarines fourth Vietnam Navy began testing the Baltic Sea to the factory level.

"The sea-level tests on plants for submarines, diesel-electric export fourth play scheme 636.1 Varshavyanka Vietnam Navy began today in the Baltic Sea," the source was quoted Alexander Buzakov said.

"Today, the ship Baltic sea to begin sea trials on the plant level. On the third vessel of this series continues the training of the crew of the order, "the source adds.

Earlier, Interfax news agency an unnamed source in the Russian shipbuilding industry also said that, Kilo submarines third Navy Vietnam will be delivered in late 2014.

"Currently, the ship is entering the third phase of the trial and the submarine's crew operated the ship sailors Vietnam ... has successfully completed trials of phase one and two," the source Interfax news said. As planned, in November this year, Tuesday Kilo submarines will be delivered to the Navy in Vietnam.

The contract provides for Vietnam six diesel-electric submarines under the scheme 636 was signed in 2009 during a visit to Moscow by Prime Minister Nguyen Tan Dung, Vietnam.

In addition to building six submarines, the contract also includes the training of submarine crew operating in Vietnam as well as the provision of equipment and technical skills required.

(BaoDatViet)

Mengintip Latihan Militer TNI-US Army di Semarang

18 September 2014

AH-64 Apache dan Mi-35P Hind (photos : US Army, Skyscrapercity)

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Latihan bersama TNI AD dan Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) di Semarang mulai 1 hingga 23 September, melibatkan 310 personel dan 15 helikopter tempur.

Tepat pukul 13.00, suara mesin helikopter bergemuruh di apron (parkir pesawat) Lanumad A Yani, Semarang. Puluhan personel US Army dan TNI AD sibuk memakai perlengkapan penerbangan.

Di apron sebelah barat tujuh personel tentara Amerika mempersiapkan helikopter AH-64 Apache dan UH-60 Black Hawk. Saat bersamaan delapan personel TNI AD juga melakukan persiapan penerbangan menggunakan helikopter MI-35 dan BO-105.

Setelah start engine selama setengah jam, empat helikopter tersebut mulai terbang rendah. Helikopter AH-64 Apache yang dikemudikan personel US Army terbang terlebih dahulu ke runway 13, sampai pertengahan runway.

Helikopter berwarna hitam tersebut terbang stabil hanya berjarak sekitar 2 meter dari aspal runway selama 10 menit. Di lihat dari apron, helikopter tersebut tampak gagah dengan kepala helikopter menghadap apron, seolah-olah mengintai.



Suara mesin helikopter buatan Amerika tersebut terdengar paling lembut. Para tentara pun terlihat mengagumi kehebatan heli tempur tersebut. Tak ayal, puluhan personel dari Lanumad yang ada di apron berlomba-lomba mengabadikan pemandangan tersebut dari dekat.

Di belakang Apache, helikopter Black Hawk terbang beberapa meter, disusul BO – 105. Tak lama helikopter MI-35 milik TNI AD pun mulai menyusul. Suara mesin helikopter terdengar bersahut-sahutan. Setelah berjejer di atas runway, empat helikopter mulai terbang, semakin lama mereka terbang semakin tinggi ke timur dan menghilang di putihnya awan siang itu.

Komandan Latihan Letkol Imade Ardana menjelaskan para personel US Army dan TNI AD berlatih melakukan pengintaian udara. Sesuai skenario, mereka akan mengintai kekuatan daerah musuh, baik dari jumlah maupun persenjataan dan strateginya. Dan sasaran hari itu adalah daerah Mijen, Kota Semarang.

Ardana, sapaan akrabnya memaparkan latihan bersama ini tidak menggunakan peluru. Selain materi pengintaian, peserta berlatih manuver mobilitas udara, evakuasi, dan bantuan tembakan.



Latihan kali ini melibatkan 207 personel dari Penerbad dan 103 personel US Army Aviation dengan menggunakan 15 unit helikopter yang terdiri dari 4 Bell-412, 2 Bo-105, 2 MI-35, 1 MI-17 V5, 4 AH Apache, 1 UH-60 Black Hawk dan 1 HH-60 Black Hawk. “Puncaknya, pada 29 September akan digelar latihan gabungan Calfex (Combined Arms Life Fire) bersama US Army Ground Force di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur. Saat itu, dalam latihan akan menggunakan peluru,” terangnya, Rabu (10/9).

Latihan tahun ini berbeda dari latihan bersama tahun-tahun sebelumnya. Latihan bersama kedelapan ini, peserta menghadirkan empat helikopter Apache buatan Amerika. Harga satu helikopter itu pun bernilai fantastis yakni sekitar Rp 700 miliar.

TNI AD membeli delapan Apache untuk memperkuat pertahanan Indonesia. Mesin helikopter dilengkapi teknologi canggih, yakni dengan sistem komputer.

“Bahkan, saat latihan peserta dari Indonesia belum boleh menerbangkan Apache. Nantinya, bila helikopter tersebut tiba di Indonesia, hanya tentara terpilih yang bisa menerbangkannya. Dan saat ini masih proses seleksi yang ketat,” terang Ardana. Empat Apache yang ikut latihan di Semarang akan memeriahkan HUT TNI AD ke 69 yang jatuh pada 5 Oktober nanti sebelum kembali ke negaranya.

(Tribun News)

The Truth Behind PAF Hueys’ Night Flying

18 September 2014


UH-1H Huey tactical utility helicopters from the 205th PAF Tactical Helicopter Wing (photo : Mack Milay)

The seemingly never breaking sound at night brought about by Philippine Air Force (PAF) helicopters patrolling around the city of Zamboanga, perhaps, makes the residents to speculate.

It may be disturbing to some as it shatters the serenity of the night. For others, it may be perceived as another firefight somewhere between the government troops and the armed threat groups. But people should not be worried about flying at night especially in the vicinity of Zamboanga City. Here are some facts to know about helicopter flying at night.

Night Visual Flight Rules (NVFR) Proficiency or Night Flying is one of the flying proficiency programs of the 205th Tactical Helicopter Wing (THW), a unit of the Philippine Air Force tasked to conduct heli-lift operations in support of ground units of the Armed Forces of the Philippines (AFP) and Philippine National Police (PNP).The proficiency program aims to prepare pilots and aircrew of the 205th Tactical Helicopter Wing for night flying missions using UH-1 helicopter popularly known as Huey. This is the time when civilians are most vulnerable.

The Night Flying Proficiency is being conducted within and outside an aerodrome upon approval of the Commanding General of the Philippine Air Force and after proper coordination with concerned units or agencies. This is conducted using Night Vision Goggles (NVG) among aircrew every three days when no night mission has been performed. That’s the twice-a-week neverberating sounds you hear within Zamboanga City, but those sounds assure our peace and order.

The helicopter proficiency sound you hear assures necessary skills and expertise among aircrew for critical night flying missions such as Air Reconnaissance, Troop Insertion and Extrication, Limited Close Air Support (CAS), Resupply, Medical Evacuation (MedEvac), Casualty Evacuation (CasEvac) and other support to AFP and PNP forces. Also, it serves extra dimension in security as this aerial flight jibed with aerial patrols deter possible attempts of more chaos from among perpetrators.

As gallant vanguards of our precious skies, the airmen must undergo hard training to be always ready when aggression comes and Night Flying Proficiency being performed by the airmen of 205th THW is a testament of cognizance and readiness for war anytime, even at night.

(ZamboangaTimes)

PT PAL Bangun Proyek Kapal PKR 10514 Kedua

18 September 2014


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kedua kanan), bersama Wakil KSAL Laksdya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin (tengah) dan perwakilan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda (kiri), menyaksikan proses pemotongan plat baja pertama kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 di Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Rabu (17/9). Pemotongan plat baja pertama (fist steel cutting) proyek kapal PKR yang bekerjasama dengan galangan kapal DSNS Belanda tersebut, untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan, demi memenuhi Armada TNI AL. (photo : Antara)

Bisnis.com, SURABAYA – BUMN galangan kapal PT PAL Indonesia (Persero) mulai menggarap proyek kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 yang kedua setelah sebelumnya memulai konstruksi pembuatan PKR pertama.

Modul bagian depan PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Direktur Utama PAL INDONESIA M. Firmansyah Arifin mengatakan proyek PKR tersebut digarap melalui kerjasama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda.

"Kerjasama dengan galangan luar negeri ini turut menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan. Perkembangan kebutuhan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahunnya, dan ini sebagai pemenuhan Armada TNI Angkatan Laut," ujarnya dalam siaran rilis penyelesaian proyek KCR 60 dan pemotongan plat baja pertama (First Steel Cutting) kapal PKR 10514 kedua, Rabu (17/9/2014).


Modul bagian tengah kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Dia mengatakan dalam mencapai target sebagai lead integrator sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2012, PAL Indonesia sebagai BUMN diharuskan mampu memproduksi kebutuhan alutsista TNI yang menjadi motor tumbuhnya industri galangan kapal.

"Dengan merampungkan pesanan TNI AL, kami akan terus berkarya untuk peningkatan kebutuhan armada laut menjadi world class navy," imbuhnya.

Modul bagian atas kapal PKR 10514 pertama (photo : ambalat)

Adapun PAL Indonesia telah menyerahkan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) dengan total 3 unit dari bacth pertama ini. KCR 60 meter merupakan jenis pengembangan dari Kapal Patroli Cepat (FPB-57) yang telah dibangun oleh perseroan sebelumnya. KCR 60 M ketiga yang sudah diserahterimakan rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro untuk menjadi kapal perang Indonesia dengan nama KRI HALASAN 630.

PAL Indonesia juga berencana segera mengirimkan sekitar 250 tenaga pembuatan kapal untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) proyek Kapal Selam. Proyek tersebut bakal menjadi sejarah pertama di Indonesia dalam pembangunan kapal Selam.

(Bisnis)

17 September 2014

PT DI Serahkan CN-235 Patmar Ketiga untuk TNI AL

17 September 2014


TNI AL rencananya akan dilengkapi dengan 12 pesawat CN-235 Patmar (photo : David Halim)

PT DI Serahkan CN-235 ke Puspenerbal

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA - PT Dirgantara Indonesia secara resmi menyerahkan Pesawat Udara CN-235 220 Patroli Maritim kepada Kementerian Pertahanan yang langsung diserahkan ke Pusat Penerbangan TNI AL, Rabu (17/9/2014).

Serah terima yang dilaksanakan di Apron Base Opps Lanudal Juanda itu dihadiri langsung oleh Menteri Pertahanan RI, Prof Purnomo Yusgiantoro.

Pesawat CN 235 220 MPA bernomor. P-862 adalah pesawat udara jenis Patroli Maritim ke tiga yang diserahkan PTDI.

Sebelumnya dua pesawat serupa yang diberi nomor P-860 dan P-861 telah diserahkan di  tahun 2013.

"Ini merupakan langkah baik bagi industri pertahanan dalam negeri. Ini juga bukti industri pertahanan dalam negeri sudah bersaing," kata Yusgiantoro.

Pesawat udara ini akan mendukung kebutuhan penerbagan TNI AL sebagai.patroli udara dan maritim dengan kemampuan pengintaian dan pengawasan.

Pesawat ini akan jadi kepanjangan tangan, mata dan telinga bagi kapal perang yang melaksaanakan operasi tempur maupun operasi keamannan laut.

Pesawat buatan dalam negeri ini memiliki karakteristik umum panjang 21,40 meter,  bentang sayap 25,81 meter,tinggi 8,18 meter, dan memiliki tenaga penggerak dua mesin General Electric CT79 C Turboprop 1395KW (1850bhp).

Kecepataan maksimum yang dimiliki 509 km per jam dan jarak jangkau 796 km (496 mil).

Pengadaan pesawat terbang ini adalah bagian dari rencana pemenuhan kebutuhan Minimal Essensial Force Alutsista TNI  AL hingga 2024. Rencananya Pusat Penerbangan TNI AL akan menerima Pesawat sejenis hingga 12  buah.

Penambahan alutsista di antaranya untuk pesawat latih,  helikopter AKS, helikopter AKPA. Total diperkirakan akan ada penambahan mencapai 50 pesawat udara dan helikopter.

(TribunNews)