14 Desember 2017

Government Resolves Defence Cost Blowout

14 Desember 2017


RNZN Anzac class frigates (all photos : Naval Today)

Defence Minister Ron Mark has announced that a revised contract has been signed with Lockheed Martin Canada to deliver the installation phase of the Anzac Frigate Systems Upgrade (FSU) project.

The project, which had a budget of $491 million after contract signature in 2014, has experienced a cost overrun of $148 million, around 30 per cent of the budget. The revised project budget now sits at $639 million.

Mr Mark said that the FSU cost overrun was the largest example of procurement overspends under the previous Government yet identified.

“This Government has discovered a range of cost pressures and procurement overspends across several portfolios. This Defence project is the largest such example to date.

“This project is the biggest commitment of a series of mid-life upgrades on the frigates that have taken place since the mid-2000s, which have kept systems up to date with modern technology," he said.

“There has been a series of inaccurate estimates and project management errors by the Ministry of Defence, compounded by a failure to act by previous Ministers.

“The scale of this overrun is deeply disappointing, and I have made it clear to officials that under this Government, Defence procurement must and will be accurately costed, scoped and delivered on time and within budget. This is not good enough.

"While this Government has acted quickly on this issue, through making a fiscally neutral transfer within the Defence Budget allocation at no additional cost to taxpayers, the same cannot be said about the previous Government.



“After first becoming aware of this issue in September 2016, when additional costs were first estimated at between $65-74 million, they failed to resolve it over a year, while costs continued to increase, and schedule delays became longer and longer.

"Crucially, the contractor provided a final fixed firm price in June 2017, and this was not taken up in the run-up to the election. This decision imposed a real further cost to taxpayers and the Navy, with the contract having to be reopened and renegotiated, causing additional costs to be incurred, and a significant delay to the point at which installation of this essential equipment on the frigates could begin.”

To fund the cost overrun, and consistent with the Coalition’s commitment to fiscal prudence, Cabinet has agreed to reallocate a portion of the money that was provisioned in Budget 2017 for the Littoral Operations Support Capability project. This trade-off will mean that a contemporary, off-the-shelf commercial dive and hydrographic vessel will be procured, rather than a more advanced, specifically designed military vessel.

“While this is a trade-off in capability for Defence, this innovative response means that a dive and hydrographic vessel will be able to be delivered to the Defence Force sooner than the military-specification option,” Mr Mark said.

“It will be significantly more capable than HMNZS Manawanui and HMNZS Resolution, the two vessels it is replacing, particularly in regards to support to underwater search and recovery operations, and in capacity, speed, and versatility in response to domestic and regional natural disasters. This trade-off was made on the advice of Defence officials, as the most appropriate and manageable within the Defence portfolio.”

(Scoop)

Setelah Di-"upgrade", Pesawat F-16 Bantuan AS untuk TNI AU Punya Banyak Kelebihan

14 Desember 2017


Pesawat F-16C yang baru datang (photos : Kompas, Antara)

MADIUN, KOMPAS.com – Pesawat tempur jenis F-16 bantuan AS yang dihibahkan ke TNI AU merupakan pesawat bekas pakai. Namun, setelah di-upgrade jadi memiliki banyak kelebihan. Selain jago bertempur jarak dekat, pesawat tempur itu juga jago bertempur jarak jauh.

"Pesawat F-16 dapat mendeteksi sasaran dari jarak dekat maupun jauh. Radar pendeteksi dapat mencari sasaran dari jarak 10 mil hingga 200 mil. Bahkan, tinggi dan besaran sasaran dapat dideteksi," kata Mayor (Pnb) Pandu Eka, salah satu penerbang tempur Lanud Iswahjudi, kepada wartawan, Selasa (12/12/2017).

Menurut Pandu, jangkauan kemampuan radar pesawat tempur F-16 yang sudah di-upgrade bila saat menyerang tidak perlu datang mendekat. Pasalnya, pesawat tempur ini dilengkapi rudal dengan jarak tempuh hingga ratusan mil.

"Pesawat dilengkapi sembilan hard point untuk tempat misil. Pesawat ini dapat bertempur air to air (antar-udara) hingga air to ground (udara ke tanah) dan membawa sembilan ton misil dengan berat take off maksimal 19 ton," ungkap Pandu.

Pandu mengatakan, pesawat tempur jenis F-16 tipe CD yang sudah di-upgrade sudah dilengkapi sistem avionik (perangkat elektronik). Selain itu, memiliki radar pencari sasaran hingga RWR (radar warning receiver) untuk mendeteksi ancaman musuh.



Untuk sistem pertahanan, kata Pandu, pesawat itu dilengkapi radar peringatan musuh. Teknisnya, peringatan langsung menyala jika pesawat terkunci radar musuh sehingga pesawat langsung bisa menghindar.

Pandu mengatakan, pesawat tempur jenis F-16 ini juga dilengkapi sistem chaff untuk mengecoh pendeteksian radar musuh. Dengan demikian, pesawat musuh bisa salah mendeteksi.

"Kalau misil telanjur diluncurkan, masih ada sistem flare atau pengecoh sinyal panas. Lewat sistem ini dapat membelokkan misil pesawat," jelas Pandu.

Komandan Lanud Iswahyudi Marsma TNI Samsul Rizal menyebut total biaya mendatangkan 24 pesawat bantuan AS sebesar 690 juta dollar AS. Biaya itu sudah termasuk untuk upgrade.

"Jadi pesawat ini sebelum dikirim mendapat perbaikan terlebih dulu. Pengiriman bertahap dan ini pengiriman terakhir kali," kata Samsul.

Samsul menjelaskan, hadirnya pesawat tempur bantuan AS menjadikan Lanud Iswahyudi memiliki 10 pesawat tempur F-16 CD dan AB di Skadron 3. Sepuluh pesawat tempur F-16 AB sudah berada di Lanud Iswahyudi sejak 1989 silam. Selain itu, terdapat 16 pesawat T 50 Golden Eagle di Skadron 15.

(Kompas)

5 More OPLOT-T Tanks Delivered to Thailand

14 Desember 2017


Arrival of 5 Oplot T main battle tanks (all photos : Thai Defense News)

Unofficial photos On December 10, 2017, five main battle tanks OPLOT-T for the Royal Thai Army which was sent from Ukraine have arrived in Thailand. 

With the five tanks that sent to the Thai authorities, the total of the main battle tanks OPLOT-T received at this time was 36, from 49, still remaining 13.



The last of the 13 tanks already just wait for the official representative of Thailand to check. When the process is complete, Ukraine will deliver the remaining 13 OPLOT-T main battle tanks to the Thai authorities.

(Thai Defense News)

Apache Segera Diserahkan, Boeing Langsung Tawarkan Chinook

14 Desember 2017


Helikopter AH-64E Apache Guardian (all photos : defence.pk)

Helikopter Apache Akan Diserahkan, Selanjutnya Boeing Tawarkan Helikopter Chinook

Jakarta – Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima Wakil Direktur Global  Sales and Marketing Boeing  Defence Space (BDS) Mr. Yeong Tae Pak, Rabu (13/12) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membicarakan tentang kerja sama pengadaan Alutsista yakni terkait dengan pengadaan helikopter serbu Apache dan juga penawaran helikopter angkut besar Chinook.

Wakil Direktur Global  Sales and Marketing Boeing  Defence Space menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia yang dalam waktu dekat akan menerima helikopter serbu Apache pesanan TNI AD. Pihaknya menjamin bahwa Apache adalah helikopter terbaik saat ini.

Selain itu pihak Boeing juga menjanjikan akan memberikan pelatihan dan dukungan yang terbaik. “Jadi terkait dengan dukungan suku cadang dan pemeliharaan sudah dibicarakan dengan pihak PT DI”, ungkapnya.



Terkait dengan penawaran helikopter Chinook, Wakil Direktur Global  Sales and Marketing Boeing  Defence Space lebih lanjut menjelaskan apabila Indonesia berminat, maka pihak Boeing akan memberikan penawaran dengan skema pembiyaan dan harga yang terbaik.

Boeing juga bersedia memberikan penjelasan selengkap – lengkapnya bagaimana sistem offset-nya yang sesuai dengan keinginan Indonesia untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri.

Lebih lanjut dijelaskannya, helikopter Chinook memiliki multi fungsi karena dapat digunakan untuk mendukung berbagai macam tugas kebutuhan mulai dari operasi militer khusus, hingga penanganan bencana alam dan kebakaran hutan.

Sementara itu menanggapi penawaran tersebut, Menhan RI menyampaikan akan berkomunikasi dengan pihak pengguna dalam hal ini TNI AD atau TNI AU. Karena dalam setiap proses pengadaan Alutsista, didasarkan kepada kebutuhan pengguna.

(Kemhan)

13 Desember 2017

TUDM Nilai Aset Pesawat MPA dan UAV, 
Tingkat Keupayaan

13 Desember 2017


Airbus C-295 MPA (image : AirbusMilitary)

IPOH  – Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) sedang membuat penilaian untuk menentukan empat unit pesawat Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang sesuai bagi meningkat keupayaan pasukan tersebut pada masa depan.

Panglima Tentera Udara, Je­neral Tan Sri Affendi Buang berkata, empat pesawat tersebut merupakan aset terbaharu yang telah diluluskan kerajaan kepada TUDM pada pembentangan Bajet 2018, Oktober lalu.

Selain itu kata Affendi, pihak­nya juga sedang melihat keupayaan lain yang relevan melibatkan pembangunan pesawat tanpa pemandu (UAV) sebagai langkah persediaan menghadapi ancaman baharu di masa hadapan.

“Pada masa yang sama, TUDM juga dalam perjalanan untuk memperkuat dan memperkasakan lagi keupayaan kita dengan peralatan yang konvensional dan bukan konvensional.

“Ini adalah untuk menentukan kita benar-benar bersedia untuk menghadapi sebarang ancaman tidak kira pada masa sekarang dan juga masa hadapan, selain memastikan keupayaan kita sentiasa setaraf dengan keupayaan negara serantau yang lain,” katanya.

Beliau berkata demikian dalam sidang akhbar selepas menyempurnakan perbarisan tamat latihan perajurit muda TUDM Siri 57/2017 di padang kawad Akademi Tentera Uda­ra (ATU) di sini hari ini.

Seramai 285 pelatih berjaya menamatkan latihan yang diadakan selama 22 minggu bermula 1 Julai sehingga 31 Disember itu.

(Utusan)

Australia has Agreed to Sell 18 F/A-18 A/B Classic Hornets to Canada

13 Desmber 2017


RAAF F/A-18A/B Hornet (photo : wiki)

Sale of Australian Classic Hornets to Canada

Minister for Defence, Senator the Hon Marise Payne, today announced the Government has agreed to the sale of 18 Royal Australian Air Force F/A-18 A/B Classic Hornets to the Government of Canada. 

The offer follows an expression of interest from the Canadian Government received in September. The sale of the aircraft and associated spares remains subject to final negotiations and Country of Origin export approvals.

Defence plans to withdraw its fleet of F/A-18A/B Classic Hornets from service by 2022, which will be progressively replaced by the F-35A Joint Strike Fighter, Australia's new fifth-generation air combat capability.

Minister Payne spoke with her  Canadian counterpart, Minister for National Defence Harjit Sajjan, to welcome the sale.

“Australia greatly values our longstanding and broad bilateral defence relationship with Canada, and this decision is another example of our close and strong partnership,” Minister Payne said.

“The aircraft will supplement Canada’s existing fleet as it develops and implements its plan to replace the Royal Canadian Air Force fighter jet fleet.

Transfer of the first two aircraft is expected to occur from the first half of 2019, in line with the current plan to transition to the Joint Strike Fighter.

Australia’s first two Joint Strike Fighters are expected to arrive in Australia at the end of 2018.

(Aus DoD)

TNI AU Terapkan Kebijakan Penggelaran “No Area Left with No Air Cover”

13 Desember 2017


TNI AU rencananya akan menambah skadron tempur dari tipe pesawat yang sudah dimiliki sebelumnya (image : Lockheed Martin)

TNI AU Gelar Kekuatan di Pangkalan Terdepan

TNI AU. Kasau Marsekal TNI Hjadi Tjahjanto S.IP menyatakan, TNI AU akan mengubah pola gelar kekuatan tempur . Pola gelar yang selama ini terpusat di wilayah tertentu, diperbarui dengan kebijakan menempatkan satu flight pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan. Dengan pola gelar tersebut diharapkan TNI AU dapat mewujudkan konsep “No Area left with no air cover” (tidak ada wilayah dibiarkan tanpa perlindungan udara).

“Saat ini sedang digelar satu flight pesawat T-50i Golden Eagle di Kupang. Kedepan juga akan di gelar unsur-unsur pesawat tempur di Pangkalan terdepan lainnya”. Kata Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP., dalam pembekalannya kepada 105 Pasis Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) Angkatan 102  di ksatrian Sekkau, Halim Perdanakusuma, Selasa (12/12). Sekkau Angkatan 102 diikuti 101 TNI AU,  tiga Pasis diantaranya Wara, lima Pasis TNI AU di luar negri, serta dua Pasis TNI AD dan dua Pasis TNI AL.

Kasau optimis kebijakan dan strategi tersebut dapat dilaksanakan mengingat kondisi kesiapan pesawat mencapai  100% demikian juga kesiapan pesawat helikopter yang tinggi untuk misi SAR,  akan mendukung penempatan pesawat tempur di beberapa pangkalan udara terdepan.  Bila hal ini dikaitkan dengan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan Indonesia sebagai poros maritim dunia maka, kebijakan penggelaran “No area left with no air cover” dapat memberikan jaminan perlindungan udara di atasnya.

Pembangunan Kekuatan TNI AU

Di bidang pembangunan kekuatan, kedepan TNI AU akan menambahan 3 Skadron tempur, 2 Skadron angkut berat/sedang/ringan,1 Skadron helikopter, 2 Skadron PTTA/UAV. Selain itu juga pengadaan pesawat berkemampuan khusus terdiri dari 4 Pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C), 4 Pesawat jet tanker, Helikopter anti teror, 12 Satuan Radar, serta pengadaan pesawat Multipurpose Amphibious.

Sedangkan bidang pembinaan kemampuan, TNI AU akan memenuhi siklus latihan yang telah direncanakan secara ketat dan terus meningkatkan kualitasnya melalui pelaksanaan evaluasi serta melaksanakan latihan bersama dengan negara lain.

(TNI AU)