29 Juni 2016

RSS STEADFAST - First Non-US Navy Ship to lead RIMPAC Multinational Group Sail

29 Juni 2016


 The Republic of Singapore Navy (RSN)'s Formidable-class frigate RSS Steadfast (left) leading the Multinational Group Sail (MNGS) with two other warships from the Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) (right) and United States Navy (USN) (in far background).

The Republic of Singapore Navy (RSN)'s Formidable-class frigate RSS Steadfast is the first non-United States Navy (USN) ship to lead a Multinational Group Sail to participate in the Rim of the Pacific (RIMPAC) Exercise, the world's largest international maritime exercise. From 18 to 29 June 2016 (Singapore time), the RSN is leading two other warships from the Japan Maritime Self-Defense Force and the USN in a sail from Okinawa, Japan, to Hawaii, USA, to participate in Exercise RIMPAC. The USN is leading three other multinational groups that are sailing from San Diego and the western Pacific Ocean.



The RSN conducted naval warfare serials with the two other naval ships en route, in preparation for the high-intensity sea phase during Exercise RIMPAC. RSS Steadfast, with an embarked S-70B Seahawk naval helicopter, led the conduct of helicopter operations, surface warfare drills, gunnery firings as well as manoeuvring and communications serials. The exercise serials enhanced interoperability and mutual understanding among the naval ships.

Commenting on the navy-to-navy interactions, Commanding Officer of RSS Steadfast, Lieutenant Colonel (LTC) Ooi Tjin Kai, said that the Multinational Group Sail presents a valuable opportunity to strengthen inter-navy partnerships. LTC Ooi said, "The exercises at sea help to build confidence in operating with one another. As commander of a Multinational Group Sail, the RSN plays an important role in catalysing cooperation between the participating navies and we are glad to be able to value-add to the interactions."

Hosted by the USN, the biennial Exercise RIMPAC will be conducted in the waters off Hawaii from 1 July to 5 August 2016 (Singapore time). This is the fifth time that the RSN will be participating in the exercise. Exercise RIMPAC, as well as the Multinational Group Sail component, serve as important avenues for the RSN to sharpen its combat proficiencies and deepen professional ties and interoperability with the other participating navies.

(Sing Mindef)

Indonesia Approves Defence Ministry Plans to Acquire Military Communications Satellite

29 Januari 2016


Airbus military satcom (photo : Airbus DS)

Indonesia has approved plans by the military to acquire a communications satellite that will be launched in 2019. Acquisition is expected to spur the usage of satellite-based communication systems across the Indonesian Armed Forces

The Indonesian House of Representatives commission on defence, intelligence, and foreign affairs (Komisi I) has approved a request for funding from the country's defence ministry and the Indonesian Armed Forces (Tentara Nasional Indonesia, or TNI) to acquire a satellite from Airbus Defence and Space for USD849.3 million.

Plans to acquire the satellite were approved on 27 June, according to a transcript of proceedings between Komisi I and the Indonesian Ministry of Defence and TNI, provided to IHS Jane's on the day after.

The satellite will be used for military satellite communications on the L-Band frequency and is targeted for launch in 2019. The satellite is expected to be developed with input from the military and various Indonesian institutions, but Airbus Defence and Space will be fully responsible for its launch.

Upon launch, the satellite is expected to occupy the orbital slot of 123 degrees east longitude. The orbital slot, which has been allocated to Indonesia by the International Telecommunications Union, was previously occupied by the Garuda-1 satellite belonging to Asia Cellular Satellite. However, it has since been taken out of orbit due to various malfunctions.

The satellite's acquisition costs are expected to be disbursed by the Indonesian government over a five-year period leading up to 2019.

(Jane's)

Gantikan Dewaruci, TNI AL Punya KRI Bima Suci Tahun Depan

29 Juni 2016

KRI Bima Suci (image : Oliver Design)

JAKARTA -TNI Angkatan Laut akan segera memiliki kapal latih tiang tinggi (tall ship) penerus sang legenda KRI Dewaruci. Hal ini akan terwujud 2017 dengan kedatangan sang pengganti.

Sebagaimana diketahui, KRI Dewaruci telah lebih dari enam dasawarsa mendarma-baktikan segenap kemampuannya dalam membidani lahirnya para perwira handal TNI Angkatan Laut.

“The Legend Dewaruci yang merupakan kapal latih taruna AAL akan menyerahkan kepercayaan dalam mencetak para pemimpin masa depan bangsa kepada generasi selanjutnya. Kepercayaan tersebut jatuh kepada sang pengganti yang rencananya akan bernama KRI Bima Suci,” kata Kadispenal Laksamana Edi Sucipto melalui siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (28/6/2016).

Lebih lanjut Edi mengatakan pemotongan perdana baja (steel cutting) sebagai tanda dimulainya pembangunan KRI Bimasuci berlangsung medio November 2015 di Galangan Contruccion Navales Freire Shipyard, Kota Vigo, Spanyol.

“Bima Suci adalah kapal layar kelas Barque, yaitu kapal layar yang memiliki dua tiang dengan layar persegi. Kapal layar tiang tinggi ini memiliki panjang 110 meter dan lebar 13,5 meter melebihi KRI Dewaruci yang hanya memiliki panjang 58 meter dan lebar 8 meter. Dengan ketinggian mencapai 50 meter, KRI Bima Suci jauh lebih menjulang daripada KRI Dewaruci yang memiliki ketinggian 35 meter,” tukasnya. (Okezone)



Perbandingan Antara KRI Dewaruci dengan Bima Suci

JAKARTA - Kadispenal Laksamana Edi Sucipto menjelaskan keunggulan kapal latih tiang tinggi (tall ship) KRI Bimasuci sebagai penerus sang legenda KRI Dewaruci milik TNI Angkatan Laut.

“Jumlah layar 26 buah (KRI Bimasuci), sedangkan KRI Dewaruci 16 buah. Jika di KRI Dewaruci tidak terdapat ruang kelas, maka KRI Bimasuci menyediakan ruang kelas secara khusus sebagai tempat belajar para taruna AAL saat berlatih dalam operasi Kartika Jala Krida. Ruang kelas yang tersedia mampu memuat 100 orang taruna,” ujar Edi melalui siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (28/6/2016).

Lebih lanjut Edi menjelaskan KRI Dewasuci memanfaatkan geladak terbuka sebagai ruang rekreasi, sementara KRI Bimasuci menyiapkan ruang rekreasi dalam sebuah ballroom berukuran 11 x 10,5 meter persegi. “Tingkat kenyamanan juga jauh lebih meningkat sebab KRI Bimasuci menyiapkan perangkat multimedia,” katanya.

KRI Bimasuci sendiri mampu menyediakan akomodasi bagi 203 personel. Kecepatan maksimal mencapai 12 knot jika menggunakan daya dorong mesin dan 15 knot jika menggunakan layar. Sementara itu untuk tingkat endurance (ketahanan berlayar tanpa mengisi BBM) dapat mencapai 30 hari. Kapal layar tiang tinggi ini pun dilengkapi dengan 5 dek, 7 kompartemen, dan 48 blok.

Medio Januari lalu atau tepatnya 27 Januari 2016 KRI Bimasuci memasuki tahap peletakan lunas (keel laying). Dalam sambutannya, Direktur Galangan Guillermo Freire Garcia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas kepercayaan yang diberikan kepada perusahaannya untuk membuat kapal layar latih.

“Sebuah kepercayaan, sekaligus tantangan bagi kami, karena kami tahu bahwa pendahulu kapal ini, yakni KRI Dewaruci telah menjadi kapal yang terkenal dan menjadi legenda dunia”, kata Guillermo dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Keel laying merupakan bagian dari empat tradisi yang melekat pada setiap pembangunan kapal angkatan Laut. Urutan lengkapnya adalah peletakan Lunas (keel laying), peluncuran (launching), peresmian kapal (commissioning) dan purnatugas (decommissioning).

Pihak galangan rencananya akan meluncurkan kapal layar tiang tinggi tersebut ke laut pada pada akhir September 2016. Pada Januari hingga Mei 2017 kapal layar itu akan menjalani tahap harbour trial dan sea trial.

(Okezone)

Post-Qualification Inspections Conducted on South Korean Proponent of PHL Frigate Project

29 Juni 2016


Hyundai Heavy Industries had proposed HDF3000 variant for Philippines Navy (image : HHI).

MANILA (PNA) --- Representatives of the Philippine Navy (PN) have visited and conducted post-qualification inspections on South Korea's Hanjin Heavy Industries, Inc. (HHI), one of the proponents in the country's missile-capable frigate project.

This was stressed by Rear Admiral Roland Joseph Mercado, Western Command chief and head of the PN technical working group head on the above-mentioned project Tuesday.

HHI was one of the six foreign shipbuilders who participated in the project when it formally opened for bidding sometimes in 2014. It is based in Busan, South Korea

He added that post-qualification inspection on HHI is "very favorable" and said PN representatives focused on the proponent's capability to meet the project's "technical proposals and technical requirements".

Post-qualification inspections took place some three weeks ago, Mercado added.

The Department of National Defense has allocated PHP18 billion for the acquisition of two missile-armed frigates capable of engaging surface, air and sub-surface targets.

The budget can be divided into PHP16 billion for the ships and PHP2 billion for the weapon systems and munitions.

Mercado declined to give exact specifics of the frigate program but said the two ship can "must steam in speeds in excess of 25 knots and can engage surface, air, and surface threats" aside from helping in the PN's humanitarian assistance and disaster relief missions.

He expects the ships to be in service within three to four years. 

(PNA)

Helikopter VVIP Super Puma L2 Kembali Beroperasi

29 Juni 2016


Helikopter Super Puma TNI AU (photo : Skadron 45, Kabarmiliter)

Setelah sempat dinyatakan larang terbang, helikopter VVIP TNI AU dalam beberapa minggu ke depan sudah dapat kembali digunakan. Pelarangan terbang jenis Helikopter Super Puma L2 merupakan rekomendasi dari pabrik airbus terkait dengan beberapa rangkaian insiden kecelakaan yang menimpa Helikopter Super Puma L2.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Wieko Syofyan menyatakan, Helikopter Super Puma selama ini dioperasikan skuadron tempur dan skuadron VVIP TNI AU. Untuk jenis VVIP digunakan sebagai kendaraan operasional Presiden, jika berkunjung ke daerah-daerah yang memerlukan akses transportasi udara, seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Joko Ismoyo.

Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, sesuai dengan saran pabrikan, Helikopter Super Puma menjalani serangkaian pemeriksaan oleh  tim Keselamatan Terbang dan Kerja Mabes TNI AU. Dari hasil pengecekan, Kadispen TNI AU menyatakan tidak ditemukan adanya anomali atau kerusakan. Saat ini serangkaian uji tes terbang telah dilaksanakan dan dalam beberapa minggu mendatang diharapkan helikopter VVIP Super Puma dapat kembali beroperasi.



Dengan alasan yang sama, kata Kadispenau, beberapa negara di Eropa juga telah menghentikan sementara operasi penerbangan yang menggunakan Helikopter Super Puma ini. Wieko Syofyan tidak menjelaskan jumlah unit Super Puma L2 yang dimiliki oleh TNI AU.

Selama ini, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden RI mengunakan Helikopter Super Puma yang dioperasikan oleh Skuadron 17 VIP TNI AU yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sebelum kemudian dirawat dan dioperasikan oleh Skuadron 45 VIP yang juga bermarkas di Halim. Skuadron 17 dan 45 tersebut merupakan skuadron khusus yang menerbangkan pesawat-pesawat atau helikopter-helikopter untuk VIP dan VVIP.

(Elhinta)

28 Juni 2016

Exercise Koa Moana: The First Direct Training Between U.S. Marines, Papua New Guinea Defence Force

28 Juni 2016


 Exercise Koa Moana (photos : US Marines)

PORT MORESBY, PAPUA NEW GUINEA -- More than 130 service members from the Papua New Guinea Defence Force, U.S. Marine Corps and Navy mesh as one formation, despite the extreme heat and scorching sun, to celebrate the beginning of a beneficial future for all three components.

Task Force Koa Moana and soldiers with the PNGDF held an opening ceremony for Exercise Koa Moana, at Taurama Barracks, Papua New Guinea, June 18, 2016.

“This exercise is going to be the first of what should be many opportunities to broaden and deepen the ties of friendship and professionalization,” said Joel F. Maybury, the Deputy Chief of Mission with the U.S. Embassy in Papua New Guinea. “We’ve been looking for a number of ways for the U.S. and PNG to come together, whether it’s military, economic commercial or cultural arena.”

The task force arrived in Papua New Guinea via USNS Sacagawea, June 17, 2016, after traveling from Timor Leste for Exercise Crocodilo 16, as part of their deployment in the Asia-Pacific region. The PNGDF Navy had the opportunity to test their capabilities by using one of their naval vessels to transport the Marines, Sailors and their gear from ship to ship to shore.



“The purpose of Exercise Koa Moana, which means ‘ocean warrior’ in the Hawaiian language, is to practice skills in various military fields, resulting in a skills transfer between both organizations,” said Col. Siale Diro, the Chief of Force Preparation for land and sea elements in the PNGDF. “It is important to build our relationship and our military partnership with our allies.”

The PNGDF has trained frequently with the U.S. Army, but this marks the first opportunity for them to train with the U.S. Marines directly, specifically in infantry tactics, combat lifesaving techniques, engineering capabilities and non-lethal law enforcement capabilities.

“This exercise provides a very good platform to build our relationship with the U.S. Marines,” said Diro. “We have a long standing relationship with the U.S. military. We understand their role in the region and we share the same values of liberty, individual rights, democracy and freedom of speech.”

Papua New Guinea is the second of four destinations scheduled during Task Force Koa Moana’s deployment, which has been assigned the mission of conducting multi-national, bilateral exercises with multiple nations to increase interoperability and relations to preserve peace and stability in the Pacific.

“The big picture is global and regional security,” said Maybury. “Our friends and allies in the Pacific are important.”

US Marines)

Mengintip Budget MEF Tahap 2 (2015-2019)

28 Juni 2016


Pesawat tempur TNI AU (photo : Indonesian Military)

Kabinet kerja pimpinan Presiden Joko Widodo sudah berlangsung hampir 2 tahun. Selama itu pula para antusias pertahanan harap harap cemas akan kelanjutan program Minimum Essensial Forces tahap 2. Hingga kini belum ada informasi sahih mengenai pengadaan alutsista baru. Namun ARCinc mendapatkan data resmi dari Pemerintah terkait kelanjutan MEF tahap 2.

Data itu berupa dana atau budget yang akan disediakan untuk pembangunan pertahanan tahun 2015-2019, bersumber dari Bappenas. Sebagaimana biasanya, sumber dana berasal dari pinjaman dalam negeri serta luar negeri.

Pinjaman Luar Negeri



Dari dana pinjaman luar negeri, total Kemenhan mendapat alokasi US $ 7,7 miliar, dengan porsi terbesar untuk TNI AU yairu senilai lebih dari 3 miliar dollar. Dilihat dari besaran dana, tampaknya TNI AU akan membeli fighter senilai 1,2 miliar dolar serta pesawat transport senilai 1 miliar dollar. Sementara TNI AL juga menitik beratkan pengadaan peralatan striking dengan membeli kapal selam senilai 1,2 miliar serta kapal perang senilai sekitar 1 miliar dolar. Sementara TNI AD juga mengedepankan pengadaan helikopter dan disusul artileri medan. Untuk jelasnya, simak bagan dibawah ini.

Pinjaman Dalam Negeri



Lalu untuk pendanaan dari pinjaman dalam negeri juaranya adalah TNI AL dengan alokasi dana hampir Rp 7 trilyun. Hampir setengahnya dialokasikan untuk pengadaan KCR-60. Disusul pengadaan kapal OPV senilai 2 trilyun rupiah. TNI AD menjadi urutan kedua dengan alokasi dana pinjaman untuk kendaraan tempur.



Sementara TNI AU dengan alokasi sekitar 3 trilyun rupiah, hampir setengahnya akan dibelikan NC-212 versi terbaru. Simak data dibawah ini untuk lengkapnya. Bisa pula disimpulkan pengadaan dari pinjaman dalam negeri lebih banyak diperuntukan untuk industri pertahanan dalam negeri.

Data data yang dikeluarkan Bappenas ini tidak semuanya menyebutkan merk dan jenis alutsista tertentu. Utamanya untuk dana yang berasal dari pinjaman luar negeri. Namun dengan alokasi yang ada, bolehlah kita sedikit berharap pembangunan kekuatan TNI masih terus berlanjut.


(ARC)