15 Oktober 2014

Australia to Upgrade Phalanx CIWS

15 Oktober 2014

Block 1B Phalanx CIWS (photo : Murdoconline)

WASHINGTON - The State Department has made a determination approving a possible Foreign Military Sale to Australia for Close-In Weapon System Block 1B Baseline 2 upgrades and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $76 million. The Defense Security Cooperation Agency delivered the required certification notifying Congress of this possible sale on October 10, 2014.

The Government of Australia has requested a possible sale of up to 3 Close-In Weapon System (CIWS) Block 1B Baseline 1 to Baseline 2 upgrade kits: the overhaul and upgrade of up to 9 CIWS Block 1A mounts to Block 1B Baseline 2 systems; 11 Remote Control Stations; 11 Local Control Stations, spare and repair parts; support equipment; test equipment; personnel training and training equipment; publications and technical documentation; U.S. Government and contractor logistics and technical support services; and other related elements of logistics and program support. The estimated cost is $76 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a major ally which has been, and continues to be a staunch coalition partner and important force for political stability throughout the world.

The proposed sale will improve Australia’s maritime defense capability to contribute to national defense and future coalition operations. Australia will use the enhanced capability as a deterrent to regional threats and to strengthen its shipboard defense. Australia will have no difficulty absorbing this new upgrade into its armed forces.

The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

The principal contractor will be Raytheon Missile Systems Company in Tucson, Arizona. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.

Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Australia.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.

This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

(DSCA)

14 Oktober 2014

Bakorkamla Terima Hibah Sensor Satelit dari Cina

14 Oktober 2014

Cina akan menghibahkan ground station (stasiun bumi) untuk ditempatkan di Bangka Belitung dan Bitung (photo : Kaskus Militer)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) menandatangani nota kesepahaman perjanjian kerja sama (MoU) dengan China National Space Administration (CNSA).

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Bakorkamla Laksdya DA Mamahit serta perwakilan CNSA yang juga Duta Besar Cina untuk Indonesia, Xie Fang di kantor Bakorkamla, Jakarta Pusat, Senin (6/10).

Laksdya DA Mamahit menyatakan bahwa penandatanganan nota kesepahaman ini sebagai implementasi dari MoU antara pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Cina (RRC) yang berbasis pada Maritime Cooperation Committee (MCC), yang ditandatangani di Beijing pada 23 Maret 2012 antara menteri luar negeri (Menlu) Indonesia dan menlu RRC.

"Sebagai implementasi salah satu butir kerja sama tersebut, dalam hal keamanan dan keselamatan laut, Bakorkamla telah melakukan pembicaraan terkait pengguna teknologi terkini untuk monitoring real time kondisi perairan Indonesia dalam hal pengembangan aplikasi penginderaan jauh satelit," ujarnya.

Mamahit menyatakan, pemerintah Cina akan menghibahkan ground station (stasiun bumi) untuk ditempatkan di Bangka Belitung dan Bitung. Dia berharap, setelah alatnya datang dan dilakukan pemasangan, hibah peralatan sensor untuk keamanan laut Indonesia itu dapat digunakan mulai awal tahun depan. 

Mamahit mengatakan, langkah itu juga didahului dengan dua kali pelatihan staf Bakorkamla di Cina, yang melibatkan seluruh stakeholder sebagai rangkaian proyek besar untuk dapat memiliki satelit sendiri yang dapat memantau seluruh aktivitas di laut berbasis equator.

"Hibah peralatan teknologi tinggi berbasis satelit yang diberikan RRC melalui Bakorkamla sejalan dengan sistem peringatan dini keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan yuridiksi Indonesia," kata pria yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Pertahanan itu.

Sekretaris Pelaksana Harian Bakorkamla, Dicky R. Munaf mengakui, keterbatasan anggaran menjadi faktor utama Bakorkamla menerima hibah dari CNSA. Dia menyatakan, hibah yang diberikan Cina sangat bermanfaat bagi pemantauan keamanan laut di Indonesia.

Menurut dia, dengan adanya alat identifikasi tersebut maka lembaganya bisa secara maksimal memberikan layanan kepada pengguna kapal dalam menjalankan aktivitasnya di laut. Kendati begitu, Dicky mengaku juga sudah mempertimbangkan masalah kedaulatan negara dalam penerimaan hibah peralatan berteknologi tinggi yang berbasis pada satelit tersebut.

"Kita sudah pikirkan bagaimana cara mengamankan data agar tidak dicuri mereka. Kita berharap bisa semakin menjaga wilayah laut Indonesia agar semakin aman dari gangguan," ujarnya.

Menurut dia, peran Bakorkamla ke depan semakin strategis. Pasalnya, program pemerintah yang ingin membangun poros maritim dan tol laut harus diimbangi dengan tingkat keamanan laut.

"Untuk apa membangun infrastruktur laut kalau keamanan tidak terjamin? Semakin banyak kapal lewat dan ekonomi bisa lebih efisien, ini bisa membuat biaya pengiriman barang semakin murah. Ini tugas kami melakukan penjagaan, monitoring, dan penindakan hukum di lautan," kata Dicky. 

Sementara itu, Dubes Cina untuk Indonesia, Xie Fang menginginkan agar setelah penandatanganan MoU ini, hubungan kedua negara bisa semakin erat. RRC dan Indonesia, kata dia, dapat semakin intens dalam menghelat kerjasama di bidang pengamanan wilayah laut.

(Republika)

Laser-Guided Rocket Successfully Demonstrates Precision Strike Capability for ADF

14 Oktober 2014

Australian Defence Forces aim to field the APKWS rocket on Airbus Tiger Armed Reconnaissance Helicopter. (photo : BAE Systems)

The Australian Defence Forces recently concluded a highly successful trial of BAE Systems’ Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS™) laser-guided rocket for use on its Army and Navy helicopters. The ground trial marks the first time the APKWS technology, which transforms a standard unguided 2.75-inch (70-millimeter) rocket into a precision laser-guided weapon, has been demonstrated on a Forges de Zeebrugge (FZ) rocket.

“Through its long track record of success with the U.S. military, the APKWS technology has always been used with a Hydra rocket,” said David Harrold, director of precision guidance solutions at BAE Systems. “This demonstration highlights the unique mid-body design and versatility of the APKWS technology by showcasing the ease of deployment on the FZ rocket and its native launcher.”

During the ground-based live fire event in August, held at the Woomera Prohibited Area test range in South Australia, the APKWS laser-guided technology was on target with all seven shots fired while integrated with the FZ90 rocket motor and warhead. There was no modification required to the guidance kit to integrate with the FZ rocket. Based on the successful test, the Australian Army intends to conduct a live fire flight trial in November that could lead to the APKWS rocket fielding on the Army’s Airbus Tiger Armed Reconnaissance Helicopter and Navy’s MH-60R Seahawk platforms beginning in 2015.

Conducted by the Australian Aerospace Operational Support Group, the trial was designed to qualify the APKWS rocket for use by the Australian military to bridge the current capability gap between unguided small-diameter rockets and larger-diameter anti-armor munitions. Unlike other available offerings, the flexibility of the APKWS technology allowed the Australian Defence Force to move from concept to live fire trial in a matter of months while using its current rocket inventory and equipment.

“The APKWS laser-guided rocket is an easy-to-use, cost-effective, and flexible system,” said MAJ David Paterson, Rotary Wing Flight Commander of the Australian Army’s Aircraft Stores Compatibility Engineering Squadron. “Delivering this capability to our troops while leveraging existing equipment is a significant accomplishment that will greatly expand and enhance our military helicopters’ mission success.”

BAE Systems is the prime contractor for the APKWS rocket, which is available to international customers through the U.S. Foreign Military Sales program. Deployed in combat since 2012 by the U.S. Marine Corps, the APKWS rocket is the U.S. Department of Defense’s only fully qualified guided 2.75-inch rocket that uses semi-active laser guidance technology to strike soft and light armored targets. More information on the APKWS rocket can be found at www.baesystems.com/apkws.

(BAE Systems)

Iveco Transporter, Truk Kokoh Pengangkut Tank Leopard

14 Oktober 2014


Iveco tank transporter TNI AD (photo : Sindo)

Transporter, truk pengakut tank Leopard

SURABAYA - TNI terus memoderenisasi peralatan perangnya. Langkah tersebut menjadi tuntutan bagi TNI dalam menjaga kedaulatan negara.  

Salah satu armada tempur terbaru yang dimiliki Indonesia ialah transporter, yakni truk pengangkut untuk tank Leopard. 

Transporter ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya mampu mengangkat beban seberat 90 ton. 


Truk transporter ini mampu membawa beban seberat 90 ton (photo : ARC)

Tidak hanya itu, armada buatan Italia ini mampu bergerak dalam jarak yang cukup jauh. 

Dalam pengoperasiannya, truk ini dilengkapi dengan lowbed doll buatan Jerman.

Keistimewaan yang dimiliki lowbed doll yakni memiliki tujuh sumbu yang memungkinkan seluruh rodanya mampu bergerak secara bersamaan sehingga menjamin kelincahan dengan radius putar yang kecil.

(Sindo)

13 Oktober 2014

HMNZS Resolution Leaves RNZN Service

13 Oktober 2014

HMNZS Resolution (ex USNS Tenacious) was bought from the US and commissioned in February 1997. It was decommissioned in April 2012. (photo : RNZN)

The decommissioned survey and littoral warfare support ship HMNZS RESOLUTION has been sold and left Devonport Naval Base on Saturday, 11 October 2014 as GEO RESOLUTION, the latest addition to the fleet of international maritime survey company EGS Group. 

This photo shows the RESOLUTION departing the base for the last time. RESOLUTION (formerly USNS TENACIOUS) was bought from the US and commissioned in February 1997. It was decommissioned in April 2012.

(RNZN Comms)

Attack Helicopters with Night Vision for PAF will Arrive Soon

13 Oktober 2014

AgustaWestland is set to deliver eight AW-109 attack helicopters starting January to July 2015 (photo : Johnny Cuppens)

MANILA, Philippines — New attack helicopters that can operate in the dark are set to arrive for the Philippine Air Force, Armed Forces of the Philippines chief Gen. Gregorio Pio Catapang said.

The new units will have night vision capability allowing pilots to target hostile subjects even in the dark.

"We have capable helicopters arriving for the PAF," Catapang said while touring in Sulu on Sunday, according to a state news report.

Catapang said that the new helicopters set to arrive this year shows progress in the military's modernization campaign.

The Air Force earlier selected eight pilots to man and operate the AgustaWestland AW-109 Power helicopters and sent them to train in Costa di Samarate, Italy.

Also undergoing training are 22 maintenance personnel.

The Air Force signed the contract for eight AW109 Power light twin helicopters last November. The P3.44-billion contract includes initial logistics support and training for aircrew and maintenance personnel, the Italian firm said.

"These aircraft will be used to perform a range of duties including homeland security, armed reconnaissance and close support," AugustaWestland said in an earlier statement.

The AW109 Power is a three-ton class eight seat twin engine helicopter, dubbed as the most cost effective helicopter in its class for a range of government tasks.

(PhilStar)

11 Oktober 2014

TNI AU Cek Persiapan DAHANA Produksi Bomb P 100 L

11 Oktober 2014


Bom P-100 (photo : iberita)

PT DAHANA (Persero) kini tengah menggarap persiapan produksi bahan peledak militernya, yaitu bomb P 100 Live untuk amunisi pesawat Sukhoi. Sebelum jauh memasuki produksi massal, Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Amirudin Akhmad mengecek langsung perkembangan persiapan alat produksi yang dimiliki oleh Dahana yang berada kawasan Energetic Material Center (EMC) Dahana Subang. Kedatangan Amirrudin Akhmad pada Selasa, 30 September 2014 bersama timnya disambut langsung oleh F. Harry Sampurno Direktur Utama PT DAHANA (Persero) beserta tiga direksi lainnya.

“Kami ingin mengetahui, sudah sejauh mana perkembangan persiapan proyek Bomb P 100 L yang sudah dilakukan oleh DAHANA, karena sebelum menuju produksi massal, DAHANA sudah harus mempersiapkan Protoype P 100 L yang nantinya akan kami uji untuk mendapat sertifikasi, apakah cocok dengan kebutuhan kita,” terang Amirudin Akhmad kepada Dfile.

Untuk melihat langsung persiapan yang telah dilakukan oleh DAHANA, Tim EMC mengajaknya untuk meninjau langsung perlengkapan yang sudah dipersiapkan dan disimpan sementara di Gedung Workshop DAHANA. Nampak beberapa perlengkapan yang telah disiapkan pada tahap awal ini. Lempengan cetakan untuk uji kepadatan handak serta alat pemanas dan pendingin yang akan digunakan saat pengisian bahan peledak pada bomb produksi P 100L.  Tim juga diajak mengecek laboratorium sebagai tempat uji formula serta meninjau langsung pabrik meltpour yang nantinya sebagai tempat pengisian handak bomb pesawat Shukoi.

Melihat apa yang telah disiapkan oleh DAHANA, Amirudin Akhmad pun berharap DAHANA untuk segera menyelesaikan tahap awal pembuatan P 100 L. “Kita kan mulai lagi dari nol, jika melihat apa yang telah disiapkan untuk langkah awal sudah sangat memadai, oleh karena itu saya berharap ini secepatnya terealisasi agar nantinya bisa memasuki tahap produksi missal,” ujar Amirudin Akhmad.

Dalam menangani proyek ini, PT DAHANA (Persero) tidak sendirian, namun menggandeng perusahaan swasta untuk bekerjasama, PT Sari Bahari dalam pembuatan body P 100 L.

Bom P 100 L merupakan bomb yang akan dipasang pada pesawat Sukhoi. Bomb ini memiliki warna khas yaitu hijau yang panjangnya 1.130 mm dengan berat 100 sampai 125 kg, berdiameter 27 mm dan memiliki ekor yang panjangnya 410 mm. 

(BUMN)